Mencoba mesin roasting baru

MokaPot, membuat kopi jadi lebih nikmat

Moka_Animation

Beberapa waktu yang lalu, kira sudah setahun yang lalu, aku membawa alat ini ke kampung halaman, aku mengenalkan alat ini kepada orang tua, mereka agak sedikit bingung dengan alat ini, untuk apa itu? lalu aku pun bercerita kalau alat ini untuk membuat kopi biar terasa lebih nikmat, seperti bapak langsung minta di bikinin, dia mau tau seperti apa proses dan hasil akhirnya, maklumlah dia adalah petani kopi yang selama ini hanya membuat kopi dari air mendidih.

Hampir semua petani kopi di kampungku membuat kopi dengan cara di seduh menggunakan air panas yang telah mendidih, atau kopi di rebus bersama air sampai mendidih jika tak mau dapat ampasnya.

yah alat ini memang alat yang terbilang kuno, dari segi telnologi, tapi bagi orang orang di kampung saya yang pada umumnya adalah petani kopi. alat ini adalah alat yang baru mereka lihat.

tak lama kemudian, aku pun mulai membuat kopi dengan mokapot. mereka agak bingung, juga karena saya taruh airnya di bawah dan kemudian saya taruh bubuk kopinnya di tengah.

kira kira setengah jam mulailah air dalam mokapot mendidih, yang kemudian air mulai naik mengisi tempat yang diatasnya dengan melewati kopi. woww.. wanginya kopi lampung mulai tercium, mereka bergantian melihat proses naiknya air dari bawah ke atas.

senang rasanya membuatkan minuman kopi yang tak biasa mereka buat. mereka menikmatinya, mereka bilang rasanya kental, rasa kopinya sungguh berasam seperti ada rasa kacang dan coklatnya.

yah kopi lampung kami memang agak seperti ada coklatnya, karena mungkin tumbuh di antara pohon kakau kali yaa

Proses Pembuatan Kopi Tanggamus

Tahapan Pembuatan kopi yang kami lakukan adalah dengan sistem tradisional, yaitu pulp natural.

Buah kopi dipetik dari pohon.
Buah kopi kita jemur hingga kering.
Buah kopi yang sudah kering kita huller langsung dengan biji kopi didalam nya.
Kita kemudian akan mendapatkan green bean kopi yang sudah terpisah dari daging buah kopi dan kulit tanduk.
Green bean kopi dengan metode Pulp Natural masih terdapat lendir dari buah kopi yang menempel. Karena lendir yang menempel ini maka proses Pulp Natural biasa disebut dengan “Honey Process”.
Green bean yang masih berlendir tersebut kemudian dijemur sampai kadar air 12-13% sesuai dengan standarisasi ekspor.

Tahapan pembuatan kopi roasted sampai menjadi bubu

Biji kopi di cuci dengan air bersih, di pilih yang baik, serta di buang yang jelek.
Biji biji kopi lalu di jemur, sampai berkurang tingkat kelembabannya.
Biji biji di masukkan kedalam drum untuk sangrai secara tradisional.
Proses sangrai berlangsung selama kira kira 1,5 jam, dengan cara di putar menggunakan tangan.
Proses pengapian pun masih tradisional menggunakan kayu bakar.
Setelah aroma kopi muncul dan mulai muncul asap putih dari dalam drum, proses sangrai pun selesai.
Kopi hasil sangrai, pun telah siap untuk diolah ke bentuk lain.
Untuk membuat bubuk kopi, kami menggunakan mesin khusus.

Tanggamus, negerinya kopi robusta

tanggamus_dari_batukramat

Tanggamus memberikan kontribusi 40 persen dari total hasil kopi di Lampung. Seluruh perkebunan kopi ini dikelola oleh petani kopi yang sebagian besar merupakan perantau dari tanah Jawa. Kopi robusta adalah kopi utama yang ditanam di gunung yang menjadi favorit para pendaki di Lampung.

Robusta Tanggamus memiliki ciri khas dibandingkan kopi di wilayah lain. Pasalnya, ini sangat bergantung pada kesuburan tanah di Tanggamus dan pengelolaannya yang menggunakan pupuk alami. Letak geografis juga memberi pengaruh pada ciri khas kopi Tanggamus.

Kopi robusta dapat ditanam di atas ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (mdpl), kalau di ketinggian pada 100 mdpl hingga 200 mdpl rasanya agak hambar. Meskipun terkenal dengan kopi robusta, Lampung juga memiliki jenis kopi arabika meski jumlahnya sangat sedikit. Sejauh ini, kopi arabika tak begitu berhasil dibudidayakan di Lampung.

Tanaman kopi robusta (Coffea canephora) merupakan spesies kopi yang pohonnya bisa mencapai 12 meter. Tanaman ini lebih tahan terhadap cuaca dan hama penyakit, serta lebih mudah untuk pemeliharaannya. Kopi ini bertekstur kasar, pahit, dan mengandung kafein yang tinggi. Banyak penikmat kopi yang kurang berminat mengonsumsi kopi robusta karena kandungan kafeinnya tinggi. Itulah yang menyebabkan pangsa pasarnya sedikit.

Sayangnya, pohon kopi yang saat ini ada di Lampung sudah tergolong tua. Rata-rata usia pohonnya adalah 20-30 tahun sehingga tingkat produktivitasnya rendah.

dari berbagai sumber

Produksi Kopi Lampung Naik

TRIBUNLAMPUNG.co.id – Produksi kopi Lampung mengalami peningkatan produksi sejak lima tahun terakhir meningkat 4.500 ton dari 140.049 ton pada 2007 menjadi sebanyak 144.516 ton pada 2012. Produksi kopi pada 2013 diprediksi meningkat.

Meski peningkatan selama lima tahun tersebut hanya tercatat sebesar 4.500 ton, produktivitas kopi terbilang positif ditengah alih fungsi lahan dari kopi ke tanaman jenis lain seperti karet, kelapa sawit dan kakao.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Lampung Sutono mengatakan, luas lahan tanaman kopi pada 2012 mencapai 161.531 hektare, mengalami penyusutan sebanyak 1.200 hektare dibanding luas lahan pada 2007.

“Artinya produktivitas kopi kita meningkat, dengan luas lahan lebih kecil tapi produksi kopinya lebih banyak. Karena itu kita targetkan, produksi kopi tahun ini meningkat atau minimal sama dengan tahun lalu. Untuk luas lahan kopi juga kita upayakan tidak mengalami penyusutan lagi pada tahun ini,” kata Sutono.

Berdasarkan data Asosiasi Ekportir Kopi Indonesia (AEKI) Lampung, ekspor kopi Lampung pada 2012 sekitar 100 ribu ton. Masa panen kopi di Lampung diprediksi terjadi mulai April.(her)

Kenangan masa panen kopi

Dahulu.. waktu aku masih duduk di bangku sd hingga smp, aku masih ingat bila masa panen kopi telah tiba. Setiap pagi di rumah selalu ramai oleh para pemetik kopi yang siap membantu memetik kopi di kebun Bapak, yahh waktu itu panen kopi tidak bisa dilakukan sendiri, karena hasilnya cukup melimpah, buah kopi yang berwarna merah harus segera di petik, karena jika tidak lekas di petik maka buah buah kopi akan berjatuhan atau di makan bajing, sehingga harus mengerahkan beberapa pemetik kopi yang siap membantu.

Masa panen kopi adalah masa masa paling sibuk bagi para petani kopi. Jam 5 pagi ibu sudah bangun dan memasak nasi dan lauk untuk sarapan para pemetik kopi yang akan membantu memanen kopi. biasanya ibu sudah selesai memasak sekitar jam 7 pagi, dan pada jam 7 pagi itulah para pemetik datang untuk ikut sarapan di rumah, ibu biasanya tidak memasak sendirian, tapi di bantu oleh salah satu pemetik kopi wanita teman ibu. Tidak semua pemetik kopi yang membantu ikut sarapan di rumah, ada beberapa yang langsung berangkat ke kebun kopi dan mereka akan makan setelah ibu datang membawakan sarapan buat mereka di kebun.

Jika masa panen kopi bertepatan dengan libur panjang sekolah, aku pun biasanya ikut membantu, nyusul ke kebun pada siang harinya sambil membawa makan siang bagi para pemetik kopi. Perjalanan dari rumah ke kebun kopi milik bapak cukup jauh, biasanya memakan waktu kira kira 45 menit perjalanan dengan jalan kaki. jauh kan.. jalannya nanjak lagi, wajarlah karena kebun kopi bapak berada di salah satu lereng gunung tanggamus.

Suasana di kebun sangatlah seru.. mereka para pemetik kopi yang rata rata berjumlah lebih dari 10 orang sangat ramai, sambil memetik kopi mereka ada yang ngobrol.. tapi banyak juga yang serius memetik kopi. mereka juga suka balapan.. siapa dapat memetik kopi paling banyak.. wah seru.. dah..

mereka bisa balapan karena pemetik kopi mendapatkan upah dari berapa banyak dia memetik kopi, saat itu perkaleng mereka dapat sekitar rp.2500 rupiah. jika dalam sehari mereka bisa memetik kopi 10 kaleng dalam sehari kan lumaya.. bayarannya 25 rebu booo…

Pada siang hari saat saya datang biasanya saya langsung berteriak.. makannnnnn… sudah siang,, maka mereka pun berkumpul untuk makan bersama di kebun. acara makan di kebun kopi ini sangatlah nikmat, walau hanya dengan lauk seadanya, dan tanpa piring tentunya.. rasa makanan sangat lezatnya…

selesai makan siang biasanya acara di lanjutkan dengan minum kopi, lalu dari mana air panasnya ? karena jika membawa teremos buat ke kebun kan berat, jadi cukup bawa ceret, dan masak airnya di kebun.. seruu yaa.. dah kaya kemping aja..

kemudian beberapa jika sudah terkumpul beberapa karung kopi (satu karung kopi ini biasanya sekitar 50 kg) maka ada yang membawa pulang kerumah, mereka membawanya menggunakan sepeda kumbang warna hitam. biasanya kami jalan beriringan sekitar 3- 4 sepeda kumbang. satu sepeda kumbang memuat sekitar 4 karung kopi. lalu sepeda ini tidak dinaikin, tapi di tuntun, dan jika menemui jalan yang menurun yang bawa biasanya suka naik ke atas karung kopi. wahh mengerikan dan seru dengan medan yang sangat sulit.

kemudian saat jalan menanjak kan ga kuat donk dorong sepedanya, biasanya mereka berkumpul di bawah, lalu satu satu bahu membahu mendorong sepeda secara bergantian sampai atas… tak jarang kami juga terjungkal saat menuruni tanjakan curam. para pengangkut rata rata dalam sehari balik lagi 3 – 4 rit.

sore hari para pemetik kopi ada yang memutuskan untuk kerumah masing masing, ada pula yang memutuskan untuk menginap di rumah. tapi pada malam hari sekitar jam 7 atau 8 malam mereka sudah berkumpul kembali dirumah untuk makan malam bersama dirumah. suasana rumah sangat ramai di pagi hari dan malam hari, sedangkan siang hari sepi, hanya ada aku, tanteku, adikku dan ibu yang memasak di dapur yang ada di rumah, tugas kami yang dirumah adalah menjemur kopi di halaman rumah.

menjemur kopi di halaman rumah juga seru.. apalagi jika mendung gelap.. kami harus buru buru mengumpulkan kopi, karena takut kopi kehujanan dan menjadi busuk sebelum kering. tapi jika panas kembali aku pun harus siap siap mengeringkan halaman dan menjemur kopi kembali. oh yaa tidak semua kopi di keringkan, ada beberapa karung kopi yang harus langsung di giling, waktu itu secara manual. kopi yang di giling ini bertujuan agar saat dijemur lebih cepat kering, karena biji kopi yang berwarna hijau kekuningan di pisahkan dengan kulitnya yang berwana merah. dan biasanya setelah kering akan langsung di jual dan uangnya untuk membayar para pemetik kopi yang telah membantu panen kopi nantinya.

untuk kopi yang di jemur tanpa di giling, biasanya di simpan di lumbung kopi, untuk beberapa tahun kedepan dan persiapan jika butuh uang.

begitulah kira kira ceritaku pada masa panen kopi di tanggamus

 

Romantisme kopi hitam

Setiap pagi, setiap bangun pagi.. selalu ada beberapa gelas kopi panas di meja dapur, aroma kopinya membuat mataku yang baru melek menjadi lebih melek.. asap kopi yang mengepul dari gelas dipadu dengan dinginnya embun pagi hari membangkitkan semangatku. Darimana kopi kopi itu ? ibuku yang menyiapkannya setiap pagi. Setelah itu ibu biasanya baru membangunkanku dengan kata-kata “Den.. bangun.. kopinya nanti keburu dingin.. udah siang…!!” begitulah ibuku membangunkanku setiap pagi.

Biasanya aku langsung bangun, kemudian lari ke kamar mandi sekedar cuci muka, lalu ke dapur menghampiri bapak yang sedang duduk menikmati kopinya, aku biasa duduk di sebelah bapak, sedang ibu biasanya sambil sibuk menggoreng tempe atau pisang goreng, buat teman minum kopi. Ada adikku juga yang ikut di situ, biasanya adikku lebih dulu ada di dapur sebelum aku bangun. Terkadang jika ibu tidak menggoreng tempe atau pisang ibu sudah menyiapkan singkong rebus yang masih hangat.

Kopi, pisang goreng, tempe goreng yang terkadang tergantikan oleh singkong rebus atau kadang juga ubi rebus. Selalu mengawali hidup keluarga kami setiap pagi.

Yah.. kopi memang sangat sedap jika dinikmati bersama pisang goreng atau ubi rebus. Hm, nikmat, murah meriah dan menjadikan suasana rumah begitu hangat. Saya pastikan, beginilah suasana kebanyakan keluarga petani kopi di Indonesia saat memulai pagi mereka.

Bubuk kopi yang hitam dan wangi tersebut berasal dari biji-biji kopi yang dihasilkan kebun kopi bapak. Biji kopi yang disangrai di wajan tanah liat membuat kopi tradisional buatan ibu, terasa lebih nikmat dari kopi manapun. Wanginya yang khas dan rasanya yang murni membuat keluarga kami selalu membuat bubuk kopi sendiri, dari kopi yang dipanen di kebun sendiri. Saya rasa, beginilah suasana kebanyakan keluarga petani kopi di Indonesia saat memulai pagi mereka.

Saya belajar minum kopi sedari kecil. Mulanya dari icip-icip seruput demi seruput dari gelas kopi milik bapak atau ibu, kemudian di campurkan ke susu. Hingga kemudian saya bisa membuat segelas kopi sendiri dengan takaran yang telah diajarkan ibu. Alhasil, karena saya telah mewarisi resep tersebut. Sampai bertahun-tahun kemudian segelas kopi harus selalu menemani saya setiap kali harus lembur belajar atau kerja agar mata tetap terjaga.

Walaupun saya telah mencicipi aneka rasa kopi, terutama kopi instan bercitarasa internasional, atau secangkir kopi ‘keren’ di sebuah kafe, saya tetap mencintai kopi hitam yang murni dan mengikat hati. Saya selalu merindukan asap yang wangi dari secangkir kopi hitam yang dinikmati bersama-sama dengan keluarga di pagi hari atau di musim hujan. Saya selalu merindukan kopi tradisional (terutama buatan ibu), meski secara fisik tidak keren dan tidak dijual di kafe-kafe, tapi saya tahu itulah kopi yang sejati.

Sejarah Kabupaten Tanggamus

Sejarah perkembangan wilayah Tanggamus, menurut catatan yang ada pada tahun 1889 pada saat Belanda mulai masuk di Wilayah Kota Agung, yang ada pada saat itu pemerintahannya dipimpin oleh seorang Kontroller yang memerintah di Kota Agung. Pada waktu itu pemerintahan telah dilaksanakan oleh Pemerintah Adat yang terdiri dari 5 (lima) Marga yaitu :

1. Marga Gunung Alip (Talang Padang),
2. Marga Benawang,
3. Marga Belunguh,
4. Marga Pematang Sawa,
5. Marga Ngarip.

Masing-masing marga tersebut dipimpin oleh seorang Pasirah yang membawahi beberapa Kampung.

Perkembangan selanjutnya berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 114/ 1979 tanggal 30 Juni 1979 dalam rangka mengatasi rentang kendati dan sekaligus merupakan persiapan pembentukan Pembantu Bupati Lampung Selatan untuk Wilayah Kota Agung yang berkedudukan di Kota Agung serta terdiri dari 10 Kecamatan dan 7 Perwakilan Kecamatan dengan 300 Pekon dan 3 Kelurahan serta 4 Pekon Persiapan. Pada akhirnya Kabupaten Tanggamus terbentuk dan menjadi salah satu dari 10 Kabupaten/ Kota yang ada di Propinsi Lampung. Kabupaten Tanggamus dibentuk berdasarkan Undang-undang No. 2 Tahun 1997 yang di undangkan pada tanggal 3 Januari 1997 dan diresmikan menjadi Kabupaten pada tanggal 21 Maret 1997.

Sejalan dengan dinamika perkembangan masyarakat adat di Kabupaten Tanggamus, pada tanggal 12 januari 2004 Kepala Adat Saibatin Marga Benawang merestui tegak berdirinya Marga Negara Batin, yang sebelumnya merupakan satu kesatuan adat dengan Marga Benawang. Pada tanggal 10 Maret 2004 di Pekon Negara Batin dinobatkan kepala adat Marga Negara Batin dengan gelar Suntan Batin Kamarullah Pemuka Raja Semaka V.

Dengan berdirinya Marga Negara Batin tersebut, masyarakat adat pada tahun 1889 terdiri dari 5 marga, saat ini menjadi 6 marga, yaitu : Marga Gunung Alip (Talang Padang), Marga Benawang, Marga Belunguh, Marga Pematang Sawa, Marga Ngarip, Marga Negara Batin.

Secara geografis Kabupaten tanggamus terletak pada posisi 104°18’ – 105°12’ Bujur Timur dan 5°05’ – 5°56’ Lintang Selatan. Luas wilayah 3.356,61 km2 yang meliputi wilayah daratan maupun perairan. Satu dari dua teluk besar yang ada di Propinsi Lampung terdapat di Kabupaten Tanggamus yaitu teluk Semaka dengan panjang daerah pantai 200 km dan sebagai tempat bermuaranya 2 (dua) sungai besar yaitu Way Sekampung dan Way Semaka. Selainitu Wilayah Kabupaten tanggamus dipengaruhi oleh udara tropical pantai dan dataran pegunungan dengan temperaturudara yang sejuk dengan rata-rata 28°C.

sumber: http://www.tanggamus.go.id

Kopi Organik Kuyung Arang Jadi Andalan Tanggamus

KOTA AGUNG, TRIBUN Kabupaten Tanggamus memiliki berbagai produk lokal yang mampu dikembangkan untuk menjadi produk unggulan daerah yang memiliki daya saing tinggi.

Demikian disampaikan Menteri Koperasi dan UKM Syarif Hasan saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Tanggamus dalam rangka me-launching produk unggulan program  one village one product kopi organik Kuyung Arang.

“Kopi organik Kuyung Arang ini menjadi salah satu contoh produk lokal yang jika dikembangkan dapat memiliki daya saing tinggi. Dan tentunya tidak hanya kopi ogranik tersebut yang mampu dikembangkan di Kabupaten Tanggamus. Akan tetapi beberapa produk lokal lainnya, juga bisa dikembangkan,” jelasnya.

Mari Minum Kopi Negeri Sendiri

Selain kebutuhan, kopi adalah bagian dari gaya hidup. Berawal dari maraknya kedai kopi franchise pada awal 2000-an di Indonesia, saat itu di kedai kopi waralaba tak hanya kopi lokal yang ditemukan. Kopi impor pun mudah ditemui dalam bentuk kemasan.

Kini masyarakat kota yang gemar minum kopi di kafe sudah mempunyai pilihan lain. Mereka mulai berlomba meracik kopi lokal agar sama kerennya dengan kopi impor. Budaya warung kopi masih mengakar pada masyarakat Indonesia yang gemar mengobrol.

Saat ini para pengunjung kaffe yang datang untuk ngopi lebih fokus pada kegiatan mengobrol, bekerja, atau menghabiskan waktu. Bukan untuk mengenal lebih jauh tentang minuman yang tersaji di hadapannya.

Tidak banyak orang tahu bahwa Indonesia sebenarnya memiliki jenis-jenis kopi yang dahsyat. Mulai dari rasa, aroma, dan kualitasnya.

Tanah vulkanis yang ada di Indonesia, menyebabkan biji-biji kopi yang tumbuh di nusantara memiliki variasi rasa dan aroma yang tidak bisa direplika di negara lain. Misalnya, Kopi Lampung terkenal memiliki rasa rempah, kopi Papua memiliki aroma khas gula merah, dan kopi Bali mempunyai sentuhan rasa lime saat disesap.

Tanggamus Pecahkan MURI Minum Kopi Bersama

Tanggamus.go.id – Kota Agung, 15 April 2012 –  Kabupaten Tanggamus  telah berhasil memecahkan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan minum Kopi Khas daerah Bumi Begawi Jejama ini.

Kegiatan minum kopi tersebut  di laksanakan di Taman Kota Ir. Soekaro Kota Agung, pada hari Minggu Pagi (15/4) Pukul 06.30 WIB. Serta diikuti oleh sekitar 43.030  peserta yang berasal dari seluruh Jajaran Pemda Tanggamus, lapisan masyarakat, serta ribuan siswa-siswi sekolah. Continue reading “Tanggamus Pecahkan MURI Minum Kopi Bersama”