Kenangan masa panen kopi

Dahulu.. waktu aku masih duduk di bangku sd hingga smp, aku masih ingat bila masa panen kopi telah tiba. Setiap pagi di rumah selalu ramai oleh para pemetik kopi yang siap membantu memetik kopi di kebun Bapak, yahh waktu itu panen kopi tidak bisa dilakukan sendiri, karena hasilnya cukup melimpah, buah kopi yang berwarna merah harus segera di petik, karena jika tidak lekas di petik maka buah buah kopi akan berjatuhan atau di makan bajing, sehingga harus mengerahkan beberapa pemetik kopi yang siap membantu.

Masa panen kopi adalah masa masa paling sibuk bagi para petani kopi. Jam 5 pagi ibu sudah bangun dan memasak nasi dan lauk untuk sarapan para pemetik kopi yang akan membantu memanen kopi. biasanya ibu sudah selesai memasak sekitar jam 7 pagi, dan pada jam 7 pagi itulah para pemetik datang untuk ikut sarapan di rumah, ibu biasanya tidak memasak sendirian, tapi di bantu oleh salah satu pemetik kopi wanita teman ibu. Tidak semua pemetik kopi yang membantu ikut sarapan di rumah, ada beberapa yang langsung berangkat ke kebun kopi dan mereka akan makan setelah ibu datang membawakan sarapan buat mereka di kebun.

Jika masa panen kopi bertepatan dengan libur panjang sekolah, aku pun biasanya ikut membantu, nyusul ke kebun pada siang harinya sambil membawa makan siang bagi para pemetik kopi. Perjalanan dari rumah ke kebun kopi milik bapak cukup jauh, biasanya memakan waktu kira kira 45 menit perjalanan dengan jalan kaki. jauh kan.. jalannya nanjak lagi, wajarlah karena kebun kopi bapak berada di salah satu lereng gunung tanggamus.

Suasana di kebun sangatlah seru.. mereka para pemetik kopi yang rata rata berjumlah lebih dari 10 orang sangat ramai, sambil memetik kopi mereka ada yang ngobrol.. tapi banyak juga yang serius memetik kopi. mereka juga suka balapan.. siapa dapat memetik kopi paling banyak.. wah seru.. dah..

mereka bisa balapan karena pemetik kopi mendapatkan upah dari berapa banyak dia memetik kopi, saat itu perkaleng mereka dapat sekitar rp.2500 rupiah. jika dalam sehari mereka bisa memetik kopi 10 kaleng dalam sehari kan lumaya.. bayarannya 25 rebu booo…

Pada siang hari saat saya datang biasanya saya langsung berteriak.. makannnnnn… sudah siang,, maka mereka pun berkumpul untuk makan bersama di kebun. acara makan di kebun kopi ini sangatlah nikmat, walau hanya dengan lauk seadanya, dan tanpa piring tentunya.. rasa makanan sangat lezatnya…

selesai makan siang biasanya acara di lanjutkan dengan minum kopi, lalu dari mana air panasnya ? karena jika membawa teremos buat ke kebun kan berat, jadi cukup bawa ceret, dan masak airnya di kebun.. seruu yaa.. dah kaya kemping aja..

kemudian beberapa jika sudah terkumpul beberapa karung kopi (satu karung kopi ini biasanya sekitar 50 kg) maka ada yang membawa pulang kerumah, mereka membawanya menggunakan sepeda kumbang warna hitam. biasanya kami jalan beriringan sekitar 3- 4 sepeda kumbang. satu sepeda kumbang memuat sekitar 4 karung kopi. lalu sepeda ini tidak dinaikin, tapi di tuntun, dan jika menemui jalan yang menurun yang bawa biasanya suka naik ke atas karung kopi. wahh mengerikan dan seru dengan medan yang sangat sulit.

kemudian saat jalan menanjak kan ga kuat donk dorong sepedanya, biasanya mereka berkumpul di bawah, lalu satu satu bahu membahu mendorong sepeda secara bergantian sampai atas… tak jarang kami juga terjungkal saat menuruni tanjakan curam. para pengangkut rata rata dalam sehari balik lagi 3 – 4 rit.

sore hari para pemetik kopi ada yang memutuskan untuk kerumah masing masing, ada pula yang memutuskan untuk menginap di rumah. tapi pada malam hari sekitar jam 7 atau 8 malam mereka sudah berkumpul kembali dirumah untuk makan malam bersama dirumah. suasana rumah sangat ramai di pagi hari dan malam hari, sedangkan siang hari sepi, hanya ada aku, tanteku, adikku dan ibu yang memasak di dapur yang ada di rumah, tugas kami yang dirumah adalah menjemur kopi di halaman rumah.

menjemur kopi di halaman rumah juga seru.. apalagi jika mendung gelap.. kami harus buru buru mengumpulkan kopi, karena takut kopi kehujanan dan menjadi busuk sebelum kering. tapi jika panas kembali aku pun harus siap siap mengeringkan halaman dan menjemur kopi kembali. oh yaa tidak semua kopi di keringkan, ada beberapa karung kopi yang harus langsung di giling, waktu itu secara manual. kopi yang di giling ini bertujuan agar saat dijemur lebih cepat kering, karena biji kopi yang berwarna hijau kekuningan di pisahkan dengan kulitnya yang berwana merah. dan biasanya setelah kering akan langsung di jual dan uangnya untuk membayar para pemetik kopi yang telah membantu panen kopi nantinya.

untuk kopi yang di jemur tanpa di giling, biasanya di simpan di lumbung kopi, untuk beberapa tahun kedepan dan persiapan jika butuh uang.

begitulah kira kira ceritaku pada masa panen kopi di tanggamus

 

One Reply to “Kenangan masa panen kopi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *