MokaPot, membuat kopi jadi lebih nikmat

Moka_Animation

Beberapa waktu yang lalu, kira sudah setahun yang lalu, aku membawa alat ini ke kampung halaman, aku mengenalkan alat ini kepada orang tua, mereka agak sedikit bingung dengan alat ini, untuk apa itu? lalu aku pun bercerita kalau alat ini untuk membuat kopi biar terasa lebih nikmat, seperti bapak langsung minta di bikinin, dia mau tau seperti apa proses dan hasil akhirnya, maklumlah dia adalah petani kopi yang selama ini hanya membuat kopi dari air mendidih.

Hampir semua petani kopi di kampungku membuat kopi dengan cara di seduh menggunakan air panas yang telah mendidih, atau kopi di rebus bersama air sampai mendidih jika tak mau dapat ampasnya.

yah alat ini memang alat yang terbilang kuno, dari segi telnologi, tapi bagi orang orang di kampung saya yang pada umumnya adalah petani kopi. alat ini adalah alat yang baru mereka lihat.

tak lama kemudian, aku pun mulai membuat kopi dengan mokapot. mereka agak bingung, juga karena saya taruh airnya di bawah dan kemudian saya taruh bubuk kopinnya di tengah.

kira kira setengah jam mulailah air dalam mokapot mendidih, yang kemudian air mulai naik mengisi tempat yang diatasnya dengan melewati kopi. woww.. wanginya kopi lampung mulai tercium, mereka bergantian melihat proses naiknya air dari bawah ke atas.

senang rasanya membuatkan minuman kopi yang tak biasa mereka buat. mereka menikmatinya, mereka bilang rasanya kental, rasa kopinya sungguh berasam seperti ada rasa kacang dan coklatnya.

yah kopi lampung kami memang agak seperti ada coklatnya, karena mungkin tumbuh di antara pohon kakau kali yaa

Produksi Kopi Lampung Naik

TRIBUNLAMPUNG.co.id – Produksi kopi Lampung mengalami peningkatan produksi sejak lima tahun terakhir meningkat 4.500 ton dari 140.049 ton pada 2007 menjadi sebanyak 144.516 ton pada 2012. Produksi kopi pada 2013 diprediksi meningkat.

Meski peningkatan selama lima tahun tersebut hanya tercatat sebesar 4.500 ton, produktivitas kopi terbilang positif ditengah alih fungsi lahan dari kopi ke tanaman jenis lain seperti karet, kelapa sawit dan kakao.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Lampung Sutono mengatakan, luas lahan tanaman kopi pada 2012 mencapai 161.531 hektare, mengalami penyusutan sebanyak 1.200 hektare dibanding luas lahan pada 2007.

“Artinya produktivitas kopi kita meningkat, dengan luas lahan lebih kecil tapi produksi kopinya lebih banyak. Karena itu kita targetkan, produksi kopi tahun ini meningkat atau minimal sama dengan tahun lalu. Untuk luas lahan kopi juga kita upayakan tidak mengalami penyusutan lagi pada tahun ini,” kata Sutono.

Berdasarkan data Asosiasi Ekportir Kopi Indonesia (AEKI) Lampung, ekspor kopi Lampung pada 2012 sekitar 100 ribu ton. Masa panen kopi di Lampung diprediksi terjadi mulai April.(her)

Kenangan masa panen kopi

Dahulu.. waktu aku masih duduk di bangku sd hingga smp, aku masih ingat bila masa panen kopi telah tiba. Setiap pagi di rumah selalu ramai oleh para pemetik kopi yang siap membantu memetik kopi di kebun Bapak, yahh waktu itu panen kopi tidak bisa dilakukan sendiri, karena hasilnya cukup melimpah, buah kopi yang berwarna merah harus segera di petik, karena jika tidak lekas di petik maka buah buah kopi akan berjatuhan atau di makan bajing, sehingga harus mengerahkan beberapa pemetik kopi yang siap membantu.

Masa panen kopi adalah masa masa paling sibuk bagi para petani kopi. Jam 5 pagi ibu sudah bangun dan memasak nasi dan lauk untuk sarapan para pemetik kopi yang akan membantu memanen kopi. biasanya ibu sudah selesai memasak sekitar jam 7 pagi, dan pada jam 7 pagi itulah para pemetik datang untuk ikut sarapan di rumah, ibu biasanya tidak memasak sendirian, tapi di bantu oleh salah satu pemetik kopi wanita teman ibu. Tidak semua pemetik kopi yang membantu ikut sarapan di rumah, ada beberapa yang langsung berangkat ke kebun kopi dan mereka akan makan setelah ibu datang membawakan sarapan buat mereka di kebun.

Jika masa panen kopi bertepatan dengan libur panjang sekolah, aku pun biasanya ikut membantu, nyusul ke kebun pada siang harinya sambil membawa makan siang bagi para pemetik kopi. Perjalanan dari rumah ke kebun kopi milik bapak cukup jauh, biasanya memakan waktu kira kira 45 menit perjalanan dengan jalan kaki. jauh kan.. jalannya nanjak lagi, wajarlah karena kebun kopi bapak berada di salah satu lereng gunung tanggamus.

Suasana di kebun sangatlah seru.. mereka para pemetik kopi yang rata rata berjumlah lebih dari 10 orang sangat ramai, sambil memetik kopi mereka ada yang ngobrol.. tapi banyak juga yang serius memetik kopi. mereka juga suka balapan.. siapa dapat memetik kopi paling banyak.. wah seru.. dah..

mereka bisa balapan karena pemetik kopi mendapatkan upah dari berapa banyak dia memetik kopi, saat itu perkaleng mereka dapat sekitar rp.2500 rupiah. jika dalam sehari mereka bisa memetik kopi 10 kaleng dalam sehari kan lumaya.. bayarannya 25 rebu booo…

Pada siang hari saat saya datang biasanya saya langsung berteriak.. makannnnnn… sudah siang,, maka mereka pun berkumpul untuk makan bersama di kebun. acara makan di kebun kopi ini sangatlah nikmat, walau hanya dengan lauk seadanya, dan tanpa piring tentunya.. rasa makanan sangat lezatnya…

selesai makan siang biasanya acara di lanjutkan dengan minum kopi, lalu dari mana air panasnya ? karena jika membawa teremos buat ke kebun kan berat, jadi cukup bawa ceret, dan masak airnya di kebun.. seruu yaa.. dah kaya kemping aja..

kemudian beberapa jika sudah terkumpul beberapa karung kopi (satu karung kopi ini biasanya sekitar 50 kg) maka ada yang membawa pulang kerumah, mereka membawanya menggunakan sepeda kumbang warna hitam. biasanya kami jalan beriringan sekitar 3- 4 sepeda kumbang. satu sepeda kumbang memuat sekitar 4 karung kopi. lalu sepeda ini tidak dinaikin, tapi di tuntun, dan jika menemui jalan yang menurun yang bawa biasanya suka naik ke atas karung kopi. wahh mengerikan dan seru dengan medan yang sangat sulit.

kemudian saat jalan menanjak kan ga kuat donk dorong sepedanya, biasanya mereka berkumpul di bawah, lalu satu satu bahu membahu mendorong sepeda secara bergantian sampai atas… tak jarang kami juga terjungkal saat menuruni tanjakan curam. para pengangkut rata rata dalam sehari balik lagi 3 – 4 rit.

sore hari para pemetik kopi ada yang memutuskan untuk kerumah masing masing, ada pula yang memutuskan untuk menginap di rumah. tapi pada malam hari sekitar jam 7 atau 8 malam mereka sudah berkumpul kembali dirumah untuk makan malam bersama dirumah. suasana rumah sangat ramai di pagi hari dan malam hari, sedangkan siang hari sepi, hanya ada aku, tanteku, adikku dan ibu yang memasak di dapur yang ada di rumah, tugas kami yang dirumah adalah menjemur kopi di halaman rumah.

menjemur kopi di halaman rumah juga seru.. apalagi jika mendung gelap.. kami harus buru buru mengumpulkan kopi, karena takut kopi kehujanan dan menjadi busuk sebelum kering. tapi jika panas kembali aku pun harus siap siap mengeringkan halaman dan menjemur kopi kembali. oh yaa tidak semua kopi di keringkan, ada beberapa karung kopi yang harus langsung di giling, waktu itu secara manual. kopi yang di giling ini bertujuan agar saat dijemur lebih cepat kering, karena biji kopi yang berwarna hijau kekuningan di pisahkan dengan kulitnya yang berwana merah. dan biasanya setelah kering akan langsung di jual dan uangnya untuk membayar para pemetik kopi yang telah membantu panen kopi nantinya.

untuk kopi yang di jemur tanpa di giling, biasanya di simpan di lumbung kopi, untuk beberapa tahun kedepan dan persiapan jika butuh uang.

begitulah kira kira ceritaku pada masa panen kopi di tanggamus

 

Romantisme kopi hitam

Setiap pagi, setiap bangun pagi.. selalu ada beberapa gelas kopi panas di meja dapur, aroma kopinya membuat mataku yang baru melek menjadi lebih melek.. asap kopi yang mengepul dari gelas dipadu dengan dinginnya embun pagi hari membangkitkan semangatku. Darimana kopi kopi itu ? ibuku yang menyiapkannya setiap pagi. Setelah itu ibu biasanya baru membangunkanku dengan kata-kata “Den.. bangun.. kopinya nanti keburu dingin.. udah siang…!!” begitulah ibuku membangunkanku setiap pagi.

Biasanya aku langsung bangun, kemudian lari ke kamar mandi sekedar cuci muka, lalu ke dapur menghampiri bapak yang sedang duduk menikmati kopinya, aku biasa duduk di sebelah bapak, sedang ibu biasanya sambil sibuk menggoreng tempe atau pisang goreng, buat teman minum kopi. Ada adikku juga yang ikut di situ, biasanya adikku lebih dulu ada di dapur sebelum aku bangun. Terkadang jika ibu tidak menggoreng tempe atau pisang ibu sudah menyiapkan singkong rebus yang masih hangat.

Kopi, pisang goreng, tempe goreng yang terkadang tergantikan oleh singkong rebus atau kadang juga ubi rebus. Selalu mengawali hidup keluarga kami setiap pagi.

Yah.. kopi memang sangat sedap jika dinikmati bersama pisang goreng atau ubi rebus. Hm, nikmat, murah meriah dan menjadikan suasana rumah begitu hangat. Saya pastikan, beginilah suasana kebanyakan keluarga petani kopi di Indonesia saat memulai pagi mereka.

Bubuk kopi yang hitam dan wangi tersebut berasal dari biji-biji kopi yang dihasilkan kebun kopi bapak. Biji kopi yang disangrai di wajan tanah liat membuat kopi tradisional buatan ibu, terasa lebih nikmat dari kopi manapun. Wanginya yang khas dan rasanya yang murni membuat keluarga kami selalu membuat bubuk kopi sendiri, dari kopi yang dipanen di kebun sendiri. Saya rasa, beginilah suasana kebanyakan keluarga petani kopi di Indonesia saat memulai pagi mereka.

Saya belajar minum kopi sedari kecil. Mulanya dari icip-icip seruput demi seruput dari gelas kopi milik bapak atau ibu, kemudian di campurkan ke susu. Hingga kemudian saya bisa membuat segelas kopi sendiri dengan takaran yang telah diajarkan ibu. Alhasil, karena saya telah mewarisi resep tersebut. Sampai bertahun-tahun kemudian segelas kopi harus selalu menemani saya setiap kali harus lembur belajar atau kerja agar mata tetap terjaga.

Walaupun saya telah mencicipi aneka rasa kopi, terutama kopi instan bercitarasa internasional, atau secangkir kopi ‘keren’ di sebuah kafe, saya tetap mencintai kopi hitam yang murni dan mengikat hati. Saya selalu merindukan asap yang wangi dari secangkir kopi hitam yang dinikmati bersama-sama dengan keluarga di pagi hari atau di musim hujan. Saya selalu merindukan kopi tradisional (terutama buatan ibu), meski secara fisik tidak keren dan tidak dijual di kafe-kafe, tapi saya tahu itulah kopi yang sejati.

Kopi Kampung

Kopi kampung.. wehh dari judulnya aja dah kampungan karena pake nama kampung.. he he he

Dahulu.. waktu saya masih di Bandung.. kalau jam istirahat siang kerja kami sering pergi ke sebuah rumah makan thooo tentunya yang sederhana deket kantor waktu itu, nah kalau abis makan salah satu temenku selalu memesan minuman kopi yang di campur dengan susu kental manis.. dan dia menyebutnya sebagai kopi kampung.. kenapa kopi kampung ? sang temanku itu bilang kalau dikampungku di sumatra utara begitulah emakku bikin kopi.. jadi kalau minum kopi susu kental manis ini aku teringat kampung halaman.. .

lama lama akupun tertarik mencoba memesan kopi kampung model temanku itu.. dan ternyataaa rasanya mantab mas bro… sejak itu pula saya jadi sering membeli susu kental manis untuk dicampur dengan kopi lampung. dan rasanya memang mantab mas bro… kental rasa susu dan kopinya.. ohya kalau teman teman mau cobain bisa nih resepnya

1. satu sachet susu kental manis cap apa aja yang ada

2. bubuk kopi lampung tentunya… saya biasanya satu sendok makan

3. gelas mug yang besar tuh.. kira kira yang isi 150 mm, lebih gede dari gelas biasa tentunya

4. jangan lupa masak air panasnya sampai mendidih…

5. ga usah pakai gula lagi yaa karena susu kental manis udah manis…

6. seduh dan aduk 18 kali kata om elang…. karena dengan adukan sebanyak 18 kali itu bikin kopi dan air dan susu menyatu dengan agak lumayan sempurna…

7. nikmati pelan pelan…

 

mantabbbbbbbbb

Usir Kecoak dengan Ampas Kopi

TRIBUNNEWS.COM – Bahan-bahan untuk konsumsi dan perawatan dapur bisa lho dijadikan alat pengusir kecoak. Ingin tahu cara mengusirnya?

Berwarna cokelat, dan seringkali merayap di kaki. Ternyata kecoak. Kejadian seperti itu untuk sebagian orang akan mengagetkan dan mungkin pernah Anda alami. Kecoak, serangga ini senang bersemayam di tempat kotor seperti di kakus dan di dapur yang lembap. Memang terkadang masalah kecoak selalu ada, tidak peduli seberapa bersih Anda menjaga rumah Anda.  Berikut  tiga metode yang patut Anda coba untuk meminimalisir datangnya kecoak:

1.  Ampas Kopi.

Apakah Anda seorang peminum kopi dirumah? jika ya, jangan buang ampas kopinya. Asam dalam ampas kopi bisa bertindak sebagai racun bagi kecoak. Coba tebarkan di kamar mandi. Mungkin kamar mandi Anda akan beraroma kopi, tapi periksalah di kala malam, apakah adatanda-tanda kecoak? Atau mungkin Anda bisa bereksperimen di tempat lain selainkamar mandi untuk membuktikannya.

2.  Pelembut kain + campuran air .

Melihat kecoak melambat ketika melewati kain yang sudah diberi pelembut menimbulkan sebuah ide. Buatlah larutan dari pelembut kain dan air dengan perbandingan 3:2, lalu masukkan kedalam botol semprot.  Sebuah kecoak disemprot dengan larutan ini dapat membuatnya berhenti dan jatuh pingsan.

3.  Asam borat + gula .

Asam borat atau borax ini bertindakmirip dengan semprotan kecoak komersial, menyerang pencernaan dan kulit luar kecoak. Untuk mendapatkannya beli saja di farmasi atau apotek, harganya murah kok . Sementara Gula bertindak sebagai umpan karena kecoak tertarik oleh gula.  Taburkan campuran di celah-celah, di bawah lemari, di bawah wastafel, atau di tempat kecoak pernah Anda lihat.  Harus Anda ketahui borax menjadi tidak efektif apabila basah.

Itulah tiga metode DIY(Do It Yourself)  untuk mengurangi kecoak di rumah Anda. Coba lihat hasilnya dalam waktu satu minggu .  Selamat bereksperimen!

Biji Kopi Lagi Sulit Didapatkan

Bandarlampung (ANTARA LAMPUNG) – Sejumlah pedagang kopi bubuk di Kota Bandarlampung, Kamis, menyatakan mereka masih sulit mendapatkan biji kopi bermutu, karena panen raya kopi belum berlangsung di daerah penghasil utama kopi nasional itu.

“Akibat sulitnya mendapatkan bahan baku, produksi bubuk kopi menurun tidak seperti biasanya,” kata Tedy (34), pedagang kopi bubuk di Pasar Tugu Bandarlampung.

Dia mengatakan, meski hanya dapat memproduksi sedikit kopi bubuk, namun tidak berpengaruh terhadap harga jualnya, yakni Rp40 ribu/kg.

Menurutnya, stok biji kopi di Lampung sebenarnya banyak, namun agen kopi banyak menahannya sambil menunggu harga komoditas unggulan itu meningkat.

“Harga biji kopi dari agen berkisar Rp20 ribu- Rp21 ribu per kilogramnya. Jika dibeli dari petani maka harganya Rp17 ribu/kg,” kata dia.

Ia melanjutkan, jika harga biji kopi di tingkat agen tinggi maka ia terpaksa membelinya daripetani.

Biji kopi sebanyak 500 kg dibeli seharga Rp10 juta, dan keuntungannya setelah diolah menjadi kopi bubuk berkisar 20- 30 persen.

Bubuk kopi yang dijual, dia mengungkapkan, dari biji kopi robusta, karena rasanya yang khas dan barangnya mudah didapatkan.

Selain itu, menurutnya, jika harganya turun pun tidak terlalu rendah, dan biji kopi itu bisa didapatkan dari Kabupaten Lampung Barat dan Kabupaten Pesawaran.

Menurut sejumlah agen kopi di Bandarlampung, hanya sebagian kecil petani kopi yang  mulai panen.

“Belum sepenuhnya panen, karena musim panen raya akan tiba di bulan Maret nanti,” kata Rahmad, agen kopi.

Dia mengatakan, jika ada yang panen, jumlahnya hanya sedikit, namun kualitasnya membaik karena kondisi cuaca mulai cerah.

Menurutnya, sebagian petani yang penen juga menahan hasil perkebunannya itu, karena mereka menunggu harganya tinggi baru dijual.

“Harga barang tergantung kualitasnya. Jika baik harganya tinggi, tapi jika kualitasnya rendah maka harganya pun rendah,” kata dia.

(Roy Baskara/WWW.ANTARALAMPUNG.COM/LAMPUNG.ANTARANEWS.COM)