Mengintip Lumba-lumba di Teluk Kiluan

Kota Agung – Teluk Kiluan, tempat menyimpan keindahan yang tiada tara, serta keunikan yang membuat orang menjadi tergila-gila untuk selalu datang dan datang kembali ke tempat yang cukup terpencil ini, namum menjanjikan, ketenangan dan kenyamanan bagi yang berkunjung ke tempat ini.

Teluk Kiluan - Tanggamus
Teluk Kiluan – Tanggamus

Tempat ini merupakan laut lepas yang berbatasn dengan Samudra Hindia ini menyimpan keunikan yang jarang ditemukan di tempat lainnya, seperti adanya antraksi lumba-lumba, yang jumlahnya mencapai ratusan ekor.

Untuk dapat melihat dari dekat, keakraban lumba-lumba ini dengan manusia kita harus melihat pada saat pagi hari, sebelum matahari terasa begitu menyengat. Karena lumba-lumba kurang suka denan cuaca yang cukup menyengat.

Ketika perahu kita memasuki perairan tempat mereka berkumpul, maka dengan seketika mereka memburu perahu yang datang, seakan menyambut kedatangan pengunjung yang datang ke istana mereka. Inilah atraksi lumba-lumba yang hanya dapat dinikmati di alam bebas Teluk Kiluan Kecamatan Kelumbayan Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung.

Lumba-lumba di Teluk Kiluan - Tanggamus
Lumba-lumba di Teluk Kiluan – Tanggamus

Lumba-lumba yang ada di Teluk Kiluan mempunyai dua jenis. Jenis yang pertama adalah lumba-lumba berbadan besar dengan tubuh berwarna abu-abu dan sifatnya sedikit pemalu, dan lumba ini dikenal dengan lumba-lumba hidung botol (Tursiops truncates). Sedangkan yang lainnya adalah lumba-lumba paruh panjang (Stenella longirostris), yang bertubuh lebih kecil dan senang melompat.

Teluk Kiluan Kecamatan Kelumbayan Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 71 kilometer dari Bandar Lampung atau sekitar 60 kilometer dari Kota Agung (Ibu Kota Kabupaten Tanggamus). namun untuk mencapai ketempat ini memerlukan waktu sekitar 3 jam perjalanan.

Teluk Kiluan ini dapat dicapai dalam waktu tiga jam. Sedangkan dana untuk cartater perahu motor dari Telukbetung (dermaga Puri Gading) ke Teluk Kiluan berkisar Rp. 3.000.000,- perhari,’’ jelas Maimun selaku pengelola objek wisata di Teluk Kiluan.

“Ditempat ini juga tersedia berbagai jenis cottage, sehingga bagi yang ingin bermalam disini tidak perlu lagi merasa khawatir. Suasana malam di sini juga cukup meriah, karena banyak wisatawan yang memanfaatkan suasana malam di pinggir pantai, yang pasir putih bersih dan terhampar luas, sambil mendengarkan deburan ombak yang menerpa pantai. Harga sewa cottage tergantung besarnya ukuran, mulai dari harga sewa Rp. 150.000,- permalam sampai dengan harga Rp. 300.000,- per malamnya tersedia di tempat ini,” Tambah Maimun menjelaskan.

(Sumber Majalah Promo Wisata)

(Foto dikutip dari http://www.tanggamus.go.id/)

Kenangan masa panen kopi

Dahulu.. waktu aku masih duduk di bangku sd hingga smp, aku masih ingat bila masa panen kopi telah tiba. Setiap pagi di rumah selalu ramai oleh para pemetik kopi yang siap membantu memetik kopi di kebun Bapak, yahh waktu itu panen kopi tidak bisa dilakukan sendiri, karena hasilnya cukup melimpah, buah kopi yang berwarna merah harus segera di petik, karena jika tidak lekas di petik maka buah buah kopi akan berjatuhan atau di makan bajing, sehingga harus mengerahkan beberapa pemetik kopi yang siap membantu.

Masa panen kopi adalah masa masa paling sibuk bagi para petani kopi. Jam 5 pagi ibu sudah bangun dan memasak nasi dan lauk untuk sarapan para pemetik kopi yang akan membantu memanen kopi. biasanya ibu sudah selesai memasak sekitar jam 7 pagi, dan pada jam 7 pagi itulah para pemetik datang untuk ikut sarapan di rumah, ibu biasanya tidak memasak sendirian, tapi di bantu oleh salah satu pemetik kopi wanita teman ibu. Tidak semua pemetik kopi yang membantu ikut sarapan di rumah, ada beberapa yang langsung berangkat ke kebun kopi dan mereka akan makan setelah ibu datang membawakan sarapan buat mereka di kebun.

Jika masa panen kopi bertepatan dengan libur panjang sekolah, aku pun biasanya ikut membantu, nyusul ke kebun pada siang harinya sambil membawa makan siang bagi para pemetik kopi. Perjalanan dari rumah ke kebun kopi milik bapak cukup jauh, biasanya memakan waktu kira kira 45 menit perjalanan dengan jalan kaki. jauh kan.. jalannya nanjak lagi, wajarlah karena kebun kopi bapak berada di salah satu lereng gunung tanggamus.

Suasana di kebun sangatlah seru.. mereka para pemetik kopi yang rata rata berjumlah lebih dari 10 orang sangat ramai, sambil memetik kopi mereka ada yang ngobrol.. tapi banyak juga yang serius memetik kopi. mereka juga suka balapan.. siapa dapat memetik kopi paling banyak.. wah seru.. dah..

mereka bisa balapan karena pemetik kopi mendapatkan upah dari berapa banyak dia memetik kopi, saat itu perkaleng mereka dapat sekitar rp.2500 rupiah. jika dalam sehari mereka bisa memetik kopi 10 kaleng dalam sehari kan lumaya.. bayarannya 25 rebu booo…

Pada siang hari saat saya datang biasanya saya langsung berteriak.. makannnnnn… sudah siang,, maka mereka pun berkumpul untuk makan bersama di kebun. acara makan di kebun kopi ini sangatlah nikmat, walau hanya dengan lauk seadanya, dan tanpa piring tentunya.. rasa makanan sangat lezatnya…

selesai makan siang biasanya acara di lanjutkan dengan minum kopi, lalu dari mana air panasnya ? karena jika membawa teremos buat ke kebun kan berat, jadi cukup bawa ceret, dan masak airnya di kebun.. seruu yaa.. dah kaya kemping aja..

kemudian beberapa jika sudah terkumpul beberapa karung kopi (satu karung kopi ini biasanya sekitar 50 kg) maka ada yang membawa pulang kerumah, mereka membawanya menggunakan sepeda kumbang warna hitam. biasanya kami jalan beriringan sekitar 3- 4 sepeda kumbang. satu sepeda kumbang memuat sekitar 4 karung kopi. lalu sepeda ini tidak dinaikin, tapi di tuntun, dan jika menemui jalan yang menurun yang bawa biasanya suka naik ke atas karung kopi. wahh mengerikan dan seru dengan medan yang sangat sulit.

kemudian saat jalan menanjak kan ga kuat donk dorong sepedanya, biasanya mereka berkumpul di bawah, lalu satu satu bahu membahu mendorong sepeda secara bergantian sampai atas… tak jarang kami juga terjungkal saat menuruni tanjakan curam. para pengangkut rata rata dalam sehari balik lagi 3 – 4 rit.

sore hari para pemetik kopi ada yang memutuskan untuk kerumah masing masing, ada pula yang memutuskan untuk menginap di rumah. tapi pada malam hari sekitar jam 7 atau 8 malam mereka sudah berkumpul kembali dirumah untuk makan malam bersama dirumah. suasana rumah sangat ramai di pagi hari dan malam hari, sedangkan siang hari sepi, hanya ada aku, tanteku, adikku dan ibu yang memasak di dapur yang ada di rumah, tugas kami yang dirumah adalah menjemur kopi di halaman rumah.

menjemur kopi di halaman rumah juga seru.. apalagi jika mendung gelap.. kami harus buru buru mengumpulkan kopi, karena takut kopi kehujanan dan menjadi busuk sebelum kering. tapi jika panas kembali aku pun harus siap siap mengeringkan halaman dan menjemur kopi kembali. oh yaa tidak semua kopi di keringkan, ada beberapa karung kopi yang harus langsung di giling, waktu itu secara manual. kopi yang di giling ini bertujuan agar saat dijemur lebih cepat kering, karena biji kopi yang berwarna hijau kekuningan di pisahkan dengan kulitnya yang berwana merah. dan biasanya setelah kering akan langsung di jual dan uangnya untuk membayar para pemetik kopi yang telah membantu panen kopi nantinya.

untuk kopi yang di jemur tanpa di giling, biasanya di simpan di lumbung kopi, untuk beberapa tahun kedepan dan persiapan jika butuh uang.

begitulah kira kira ceritaku pada masa panen kopi di tanggamus

 

Romantisme kopi hitam

Setiap pagi, setiap bangun pagi.. selalu ada beberapa gelas kopi panas di meja dapur, aroma kopinya membuat mataku yang baru melek menjadi lebih melek.. asap kopi yang mengepul dari gelas dipadu dengan dinginnya embun pagi hari membangkitkan semangatku. Darimana kopi kopi itu ? ibuku yang menyiapkannya setiap pagi. Setelah itu ibu biasanya baru membangunkanku dengan kata-kata “Den.. bangun.. kopinya nanti keburu dingin.. udah siang…!!” begitulah ibuku membangunkanku setiap pagi.

Biasanya aku langsung bangun, kemudian lari ke kamar mandi sekedar cuci muka, lalu ke dapur menghampiri bapak yang sedang duduk menikmati kopinya, aku biasa duduk di sebelah bapak, sedang ibu biasanya sambil sibuk menggoreng tempe atau pisang goreng, buat teman minum kopi. Ada adikku juga yang ikut di situ, biasanya adikku lebih dulu ada di dapur sebelum aku bangun. Terkadang jika ibu tidak menggoreng tempe atau pisang ibu sudah menyiapkan singkong rebus yang masih hangat.

Kopi, pisang goreng, tempe goreng yang terkadang tergantikan oleh singkong rebus atau kadang juga ubi rebus. Selalu mengawali hidup keluarga kami setiap pagi.

Yah.. kopi memang sangat sedap jika dinikmati bersama pisang goreng atau ubi rebus. Hm, nikmat, murah meriah dan menjadikan suasana rumah begitu hangat. Saya pastikan, beginilah suasana kebanyakan keluarga petani kopi di Indonesia saat memulai pagi mereka.

Bubuk kopi yang hitam dan wangi tersebut berasal dari biji-biji kopi yang dihasilkan kebun kopi bapak. Biji kopi yang disangrai di wajan tanah liat membuat kopi tradisional buatan ibu, terasa lebih nikmat dari kopi manapun. Wanginya yang khas dan rasanya yang murni membuat keluarga kami selalu membuat bubuk kopi sendiri, dari kopi yang dipanen di kebun sendiri. Saya rasa, beginilah suasana kebanyakan keluarga petani kopi di Indonesia saat memulai pagi mereka.

Saya belajar minum kopi sedari kecil. Mulanya dari icip-icip seruput demi seruput dari gelas kopi milik bapak atau ibu, kemudian di campurkan ke susu. Hingga kemudian saya bisa membuat segelas kopi sendiri dengan takaran yang telah diajarkan ibu. Alhasil, karena saya telah mewarisi resep tersebut. Sampai bertahun-tahun kemudian segelas kopi harus selalu menemani saya setiap kali harus lembur belajar atau kerja agar mata tetap terjaga.

Walaupun saya telah mencicipi aneka rasa kopi, terutama kopi instan bercitarasa internasional, atau secangkir kopi ‘keren’ di sebuah kafe, saya tetap mencintai kopi hitam yang murni dan mengikat hati. Saya selalu merindukan asap yang wangi dari secangkir kopi hitam yang dinikmati bersama-sama dengan keluarga di pagi hari atau di musim hujan. Saya selalu merindukan kopi tradisional (terutama buatan ibu), meski secara fisik tidak keren dan tidak dijual di kafe-kafe, tapi saya tahu itulah kopi yang sejati.

Gisting dan Kawasan Batu keramat

Kawasan dataran tinggi Gisting dan batu keramat menyimpan potensi keindahan dimana dari ketinggian tempat kawasan ini dapat dinikmati udara sejuk pegunungan dengan pemandangankesibukan Teluk Semangka yang dihiasi kapal kapal tanker raksasa dan kapal nelayan serta pelabuhan laut kota agung. terletak hanya 4 km dari pusat pemerintahan kabupaten tanggamus.

Sumber : www.visitlampung.net

Pantai Harapan

Pantai Harapan Kota Agung terletak ± 10 km dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Tanggamus. Pada saat ini terdapat pelabuhan laut penyeberangan yang melayani rute Kota Agung – Pulau Tabuan – Tirom – Tampang – Belimbing. Saat ini di sekitar lokasi telah berkembang beberapa fasilitas pendukung, seperti fasilitas perdagangan berupa pasar dan pertokoan, sarana akomodasi berupa 2 buah hotel melati dan tiga buah rumah makan.Pantai Harapan Kota Agung sangat pas buat wisata bersama keluarga di akhir pekan.

Sumber : http://www.wisatanesia.com